SEPERTI DI NERAKA KONDISI PUSAT TAHANAN IMIGRASI DI SABAH, MALAYSIA

Sepanjang periode Januari sampai Maret 2022, sedikitnya 18 warga negara Indonesia meninggal di pusat tahanan imigrasi Tawau, di Sabah, Malaysia. Ini hanya angka estimasi yang kami dapatkan dari satu Depot Tahanan Imigrasi (DTI) di Sabah. Sementara itu ada lima DTI di Sabah. Di kelima pusat tahanan imigrasi di Sabah, kasus kematian yang dialami buruh migran asal Indonesia terjadi secara terus menerus. Karenanya, angka tersebut adalah angka minimal, kami yakin jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi.

Tingginya angka kematian yang dialami oleh buruh migran asal Indonesia telah menunjukan seluruh otoritas terkait di Sabah dengan sengaja dan terus menerus tidak memenuhi standar kesehatan yang semestinya. Kondisi ini akan terus membahayakan keselamatan seluruh tahanan imigrasi bahkan menghadapkan mereka pada resiko kematian. Hal ini hanya bisa dicegah jika kondisi buruk di dalam pusat tahanan imigrasi diperbaiki, berbagai pelanggaran standar dan prinsip kesehatan di dalam pusat tahanan dikoreksi dan berbagai perlakuan tidak manusiawi dihentikan.

Penangkapan dan Deportasi Massal,Sepanjang Maret 2021 hingga Juni 2022 telah terjadi 10 kali deportasi dari 5 pusat tahanan imigrasi di Sabah, Malaysia menuju Nunukan, Kalimantan Utara. Pada periode itu, terdapat 2191 buruh migran dan keluarganya yang dideportasi. Dari jumlah itu, 57 diantaranya adalah anak-anak berusia di bawah 5 tahun (balita).

Berbagai cerita memperlihatkan bagaimana penangkapan bisa terjadi dimana dan kapanpun, bahkan ketika migran tersebut sedang menuju perbatasan untuk kembali ke Indonesia. Sebagian besar peristiwa penangkapan berlangsung kolektif, dan dalam peristiwa tersebut terkadang ada migran yang sebenarnya memiliki dokumen yang masih aktif namun seperti umumnya dokumen tersebut dipegang oleh majikan, atau sedang dalam masa perpanjangan.

Berbagai peristiwa penangkapan menunjukan jika ratusan ribu buruh migran asal Indonesia di Sabah selalu berada dalam kondisi yang rentan karena bisa ditangkap kapanpun. Mereka bisa ditangkap ketika menempuh perjalanan, ditangkap di rumah, sedang berbelanja di pasar atau ketika bekerja.Penuh Sesak, Kotor dan Tanpa Sinar Matahari

Kecuali DTI Sandakan, seluruh pusat tahanan imigrasi di Sabah mengalami persoalan kelebihan kapasitas. Dengan rata-rata luas 8 x 12 meter, setiap blok dihuni oleh 200 – 260 orang. Setiap DTI diperkirakan memiliki 10 – 14 blok di dalamnya. Seluruh blok tahanan dikabarkan dalam kondisi yang buruk, kotor, bahkan ada yang tidak terkena sinar matahari. Beberapa blok juga sangat bau karena kondisi toilet yang penuh dengan kotoran.

Tidak ada alas tidur yang disediakan. Setiap tahanan harus tidur di lantai yang kasar, terkadang mereka melapisinya dengan kertas kardus sebagai alas. Tahanan tidur dengan kondisi saling berhimpitan satu sama lain. Saat berbaring, kaki mereka akan menyentuh kepala tahanan lain di bawahnya. Di blok 9 DTI Tawau, saking penuhnya beberapa tahanan terpaksa tidur di toilet.

Setiap DTI hanya memiliki satu toilet bersama dengan rata-rata tiga lubang toilet. Jumlah ini tentu saja jauh dibawah cukup untuk penghuninya yang berjumlah di atas 200 orang. Itupun di banyak blok laki-laki, hanya satu lobang toilet yang tidak mampat. Sisanya mampat dan membuat kotoran manusia bertumpuk. Kondisi seperti ini membuat banyak tahanan yang harus menahan buang air besar dalam jangka yang ekstrem. Kami banyak mendengar cerita mereka yang baru buang air besar satu kali dalam dua sampai tiga minggu.

Sepanjang Maret 2021 sampai April 2022, Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB) melakukan sembilan kali aktivitas pemantauan mengenai kondisi buruh migran asal Indonesia dan keluarganya yang dideportasi dari 5 pusat tahanan imigrasi di Sabah, Malaysia, ke Nunukan, Kalimantan Utara. Pemantauan tersebut kami lakukan dengan menemui dan melakukan wawancara terhadap hampir 100 deportan di rumah susun yang dikelola oleh UPT BP2MI Nunukan (Unit Pelaksana Teknis Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) di Nunukan.

lebih jelas silakan buka : https://migranberdaulat.org/?p=363

Mungkin Anda Menyukai