BURUH PELABUHAN TETAP KERJA DITENGAH PENDEMI VIRUS CORONA BELUM ADA ATURAN JAM KERJA

FBTPI Jakarta (25/03 ). – Penyebaran virus corona (Covid-19) menjadi momok yang mengkhawatirkan semua kalangan belakangan ini. Tak terkecuali bagi para pekerja bongkar muat (TKBM) di Pelabuhan Tanjung Priok. Namun agar aktivitas pelabuhan tetap berjalan, para TKBM itu tetap menjalankan pekerjaannya.”TKBM memiliki resiko tinggi terpapar virus Corona karena harus terus bekerja di tengah ancaman wabah tersebut,” ujar Ketua Umum Serikat Tenaga Kerja Bongkar Muat. Federasi buruh transpotasi pelabuhan indonesia (STKBM – FBTPI) Nurtakim, Rabu (25/3), di Jakarta.

Mirisnya, menurut Nurtakim, status sebagai pekerja harian lepas di pelabuhan membuat keselamatan TKBM terkesan diabaikan. Nurtakim mencontohkan, di saat pemerintah mengeluarkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home), manajemen pelabuhan langsung menjalankan untuk para karyawan organik/non organik. Bahkan ditambah dengan penyediaan suplemen berupa susu atau vitamin untuk menjaga kondisi tubuh.”TKBM sama sekali tidak ada yang memperhatikan,” imbuhnya.Tak hanya itu, saat TKBM bekerja di lapangan,  alat keselamatan kerja seperti masker dan sarung tangan yang seharusnya digunakan saat bekerja, banyak TKBM yang tidak mengenakannya. 

semenjak wabah covid 19 ini kami melihat pengurus koperasi belum pernah ada upaya membagi bagikan masker bagi buruh TKBM yg melaksanakan kerja dengan itu lah kami mendesak untuk segera di berikan makser dan sarung tangan.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan Surat Edaran no. 14 tahun 2020  dan Surat Edaran no.06 tahun 2020  yang meminta perusahaan dan perkantoran menerapkan kebijakan bekerja dari rumah. serta Surat Edaran Menaker no. M/3/HK/.04/III/2020 tentang perlindungan pekerja/buruh dan kelagsungan usaha dalam rangka pencegahan dan penanggulangan COVID-19.”Kami mendesak Koperasi TKBM untuk menyiapkan masker dan sarung tangan agar keselamatan TKBM terlindungi terutama dalam menghadapi pandemi virus corona,” paparnya.

Apalagi, imbuhnya, masker dan sarung tangan itu sudah masuk dalam hitungan biaya HIK yang diterima koperasi setiap ada kegiatan bongkar muat. “Masker dan sarung tangan ini sangat penting agar TKBM terlindungi,” katanya

Suplemen Selain APD, STKBM juga mendesak perusahaan-perusahaan bongkar muat di pelabuban untuk menyediakan suplemen kesehatan seperti vitamin atau minuman susu bagi para TKBM.Menurutnya,” pemberian suplemen itu penting agar TKBM bisa tetap bekerja dengan baik sehingga kegiatan bongkar muat bisa tetap berjalan”.

Di samping itu, Pelindo II sebagai pengelola pelabuhan diminta melakukan pengukuran suhu tubuh (scanning) dan cairan disinfektan bagi semua TKBM yang kebagian gilir kerja. Selain itu, sterilisasi semua area kerja pelabuhan mulai dari pintu masuk sampai terminal baik kontener maupun konvensional.”Bagi TKBM yang dalam kondisi kurang sehat, diistirahatkan sementara waktu dan upahnya dibayar penuh,” pungkasnya. Rep mar

Mungkin Anda Menyukai