SUPIR AWAK MOBIL TANGKI PERTAMINA, AYO BERJUANG BERSAMA DAN BERORGANISASILAH!!!

Setiap manusia pasti akan mendambakan kehidupan yang sejahtera dan damai tidak terkecuali juga para supir awak mobil tangki Pertamina. Supir awak mobil tangki Pertamina murapakan juga bagian dari kaum buruh yang ada di Indonesia, dimana penindasan dan ketidakadilan masih menimpah mereka.

Dalam Pasal 27 ayat (2) UUD NRI 1945, menyebutkan bahwa “Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Namun kenyataannya, supir awak mobil tangki Pertamina masih belum terjamin kepastian kerjanya akibat status kerja yang masih dalam sistem kerja kontrak dan outsorcing. Padahal dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 59 ayat (1), yang berbunyi:

“Bahwa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu.

Penjelasannya antara lain:

  • Pekerjaan yang sekali selesai atau yang sifatnya sementara,
  • Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama atau paling lama 3 (tiga) tahun,
  • Pekerjaan yang bersifat musiman, atau
  • Pekerjaan yang ada hubungannya dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam penjajakan atau percobaan.”

Sedangkan untuk masalah Outsorcing, di jelaskan pada pasal 66 ayat (1) disebutkan “bahwa pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi, kecuali untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak ada hubungannya langsung dengan proses produksi.” Dan di perkuat oleh putusan MK Nomor 27/PUU-IX/2011.

Maka sudah jelas dalam peraturan tersebut, supir awak mobil tangki Pertamina tidak bisa di jadikan sebagai pekerja kontrak dan outsorcing, karena supir awak mobil Pertamina menjalankan kegiatan pokok yang berhubungan dengan industri dan pekerjaannya tidak bersifat sementara atau musiman. Dimana supir awak mobil tangki Pertamina setiap hari memastikan agar setiap SPBU tersedia bahan bakar minyak untuk kebutuhan sehari-hari. Tanpa supir awak mobil tangki Pertamina, distribusi bahan bakar minyak tidak akan berjalan.

Persoalan lain, jam kerja melebihi ketentuan peraturan perundang-undangan merupakan ketidakadilan yang dilakukan oleh Pertamina. Dimana, supir awak mobil tangki Pertamina seharusnya mendapatkan jam lebur mereka. Seperti yang dijelaskan dalam “Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini telah diatur dalam 2 sistem seperti yang telas disebutkan diatas yaitu:

7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1  minggu; atau8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.

Pada kedua sistem jam kerja tersebut juga diberikan batasan jam kerja yaitu 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu. Apabila melebihi dari ketentuan waktu kerja tersebut, maka waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur sehingga pekerja/buruh berhak atas upah lembur.”

Jelas, dalam peraturan tersebut apabila melebihi jam kerja yang sudah diatur diatas maka pekerja/buruh berhak mendapatkan upah lembur.

Tidak berhenti di persoalan itu saja. Supir awak mobil tangki Pertamina juga mendapat upah yang tidak layak, terkadang dibawah dari UMK yang ada. Padahal jam kerja yang mereka lakukan cukup panjang. Akibat panjangnya jam kerja, banyak dari supir awak mobil tangki mengalami kecelakaan kerja, kesehatan yang menurun dan kurangnya keselamatan dalam bekerja. Selain soal itu, masih banyak persoalan-persoalan yang harus di selesaikan untuk menuju kehidupan yang sejahtera dan damai.

Maka, permasalahan umum dan memiliki nasib sama yang dialami supir awak mobil tangki Pertamina tersebut memberikan gambaran bahwa persoalan tersebut harus diperjuangkan secara bersama-sama dengan membentuk organisasi/serikat buruh. Seperti pengalaman kawan-kawan SBTPI-FBTPI PPN Plumpang, dimana persatuan dan kesolidan mereka dalam membangun serikat buruhnya sedikit demi sedikit bisa merebut hak-hak mereka yang dirampas oleh pihak Pertamina.

Maka dengan situasi yang sekilas dijelaskan diatas, Kami SBTPI-FBTPI yang juga bergerak dalam bidang transportasi, mengajak kepada seluruh supir awak mobil tangki Pertamina yang ada di depot seluruh Indonesia untuk segera membentuk organisasi/serikat sebagai wadah dalam melakukan perjuangan untuk melawan dan menuntut hak-hak supir awak mobil tangki Pertamina yang sudah dirampas.

BERSATU KITA KUAT, BERJUANG BERSAMA SBTPI-FBTPI KITA MENANG.

AYO BERJUANG BERSAMA KAMI!!!

Bangkit, Lawan, Hancurkan Tirani

SBTPI-FBTPI.

Bagikan :

Mungkin Anda Menyukai

Pin It on Pinterest