Lepas tangan, Pertamina Telantarkan Ribuan Awak Mobil Tangki

Surabaya – Puluhan massa dari FBTPI, SP Danamon dan KSN yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Buruh Jawa Timur hari ini, senin 18 September 2017, sekitar pukul 10.00 wib mendatangi kantor PT. Pertamina (Persero) Regiun V yang terletak di jalan Jagir, Surabaya. Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh beberapa organisasi ini terkait dengan berlarutnya kasus pelanggaran hukum ketenagakerjaan dilingkungan kerja Pertamina yang sangat merugikan para Awak Mobil Tangki. Pengunjuk rasa menilai bahwa PT. Pertamina yang menjadi induk dari PT. Pertamina Patra Niaga tidak bertanggung jawab terhadap nasib para sopir mobil tangki yang selama ini telah bekerja belasan tahun.

Massa aksi yang datang dengan berbagai atribut bendera dan poster tersebut menuntut PT. Pertamina Bertanggung jawab terhadap nasib mereka yang sudah berbulan-bulan tidak boleh bekerja dan tidak diberi upah semenjak mereka mogok kerja menuntut pemenuhan hak normatifnya sesuai UU ketenagakerjaan no 13 tahun 2003.

Berbagai tuntutan yang tertuang dalam poster dan spanduk yang mereka bentangkan diantaranya : Bekukan Vendor di PT. Pertamina Patra Niaga karena melanggar permen 19/2012, Kartap harga mati, bayar rapelan upah lembur, segera jalankan nota khusus yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur, dan berbagai tuntutan lainnya.

Afik irwanto, dari DPP FBTPI menyampaikan dalam orasinya “ Pertamina sebagai BUMN yang dibentuk oleh negara dengan uang pajak rakyat harus memberikan kesejahteraan kepada rakyat, bukan memperkaya pengusaha nakal. PT. Pertamina harus mewujudkan amanah UUD 1945”.
Menurutnya bahwa PT. Pertamina yang terkesan lepas tanggung jawab ini adalah bentuk penjajahan kepada rakyat. Pasalnya akibat sikap PT. Pertamina yang tidak mau tahu dengan nasib AMT tersebut mengakibatkan nasib ribuan AMT dan Keluarganya terlantar.

Massa aksi yang datang dengan diiringi lagu dan yel-yel tersebut kemudian ditemui oleh perwakilan dari PT. Pertamina di halaman gedung. Sambil berdiiri selama tak kurang dari 30 menit, perwakilan pengunjuk rasa menyampaikan tuntutannya. Namun pihak pertamina hanya berkelit bahwa itu bukan urusan mereka. Menurut Syamsul Arifin manajer HRSE PT. Pertamina Region V bahwa urusan tersebut adalah kewenangan PT. Pertamina Patra Niaga dan kebijakan PT. Pertamina pusat. “ Kami di sini hanya mengurusi operasional saja. Terkait dengan urusan kebijakan tersebut adalah terpusat di Jakarta”. Hal ini membuat geram para pengunjuk rasa. Pertemuan itu tidak menghasil kesepakatan seperti yang diharapkan oleh para pengujuk rasa. PT. Pertamina melalui perwakilanya hanya menyampaikan akan mengirim tuntutan para pekerja ini kepada PT. Pertamina pusat. Mendengar sikap pihak Pertamina yang seperti ini, pekerja berjanji akan datang seminggu lagi untuk menagih sikap dan tanggung jawab Pertamina atas nasib mereka.

Setelah pertemuan tersebut, Afik menyampaikan bahwa dia kecewa dengan sikap pihak Pertamina yang tidak menghargai para pekerja yang telah membesarkan perusahaan selama ini. “ Coba lihat, Pertamina yang memiliki gedung semegah itu beralasan tidak punya ruangan yang bisa menampung perwakilan pekerja yang berjumlah 10 orang. Sehingga mereka hanya bisa menerima dan mendengar tuntutan dari perwakilan pekerja di halaman gedung kantor saja”. Inilah sikap Pertamina yang tidak memanusiakan para pekerjanya”. Makanya tidak heran jika selama ini pertamina selalu acuh terhadap pekerjanya yang meninggal kecelakaan kerja di jalan saat mengantar BBM atau LPG ke SPBU.

Tidak puas dengan hasil aksi di Pertamina, sekitar pukul 11. 00 wib para pengujuk rasa melanjutkan aksinya di kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur.

Redaksi

Mungkin Anda Menyukai