IURAN SERIKAT BURUH

Indonesia, 7/Des/2016.

 

Ada ungkapan kondang yang dalam berbagai kesempatan kerap diulang-ulang. Sebagaimana Semaoen dalam ‘Penuntun Kaum Buruh’, 1920, pernah bilang,

 

‘Berani membayar iuran yang besar berarti berani untuk memerdekakan kaum buruh…’

 

Kita andaikan. Bila pendidikan adalah otak, aksi merupakan otot, maka iuran anggota serupa darah dan oksigen bagi gerakan buruh. Lantas apa jadinya manusia yang mengalami kurang darah dan oksigen di tubuh?

 

Hasilnya, otak tak akan bekerja secara baik, otot terasa loyo dan jika itu berjalan dalam jangka panjang, lamat-lamat ia akan jatuh sakit. Bila sakit, jangan harap bisa mengerjakan apa-apa. Tidur saja tidak enak.

 

Iuran anggota merupakan bagian yang maha penting dari serikat buruh. Sedari awal tradisi iuran anggota sepatutnya menjadi salah satu kepentingan utama yang mesti ditanamkan kuat. Ia mesti menjadi cerminan dari tingkat kedisiplinan buruh.

 

Iuran anggota satu penanda mudah atas kesetiaan dan dedikasi politik. Anda tidak bisa mengatakan mencintai gerakan buruh, sementara menyisihkan sebagian pendapatan malas dilakukan, perkataan cinta tadi akan gugur dengan sendirinya. Ditolak mentah-mentah.

 

Bagaimana sebaiknya jalan yang harus ditempuh demi menanamkan kedisplinan iuran serikat buruh di kalangan anggota? Seyogyanya, upaya tersebut tidak dipisah dari kerja peningkatkan pemahaman politik dan organisasi. Satu perkerjaan yang saling terkait satu dengan lainnya.

 

Kedisplinan (termaksud membayar iuran) lahir dari kesadaran serta kerelaan. Kesadaran dan kerelaan lahir dari pemahaman. Pemahaman lahir dari upaya pendidikan. Pendidikan melahirkan kualitas. Semakin tinggi kualitas anggota serikat buruh, semakin mudah mereka mencerna dan melaksanakan arti penting kedisplinan iuran.

 

Buruh yang dimatangkan oleh serangkaian perjuangan dan pendidikan yang bermutu akan memiliki kualitas tertentu. Pada diri buruh yang semacam ini, terdapat prespektif perjuangan yang lebih jauh. Pikirannya tak semata soal urusan hak normatif. Pikirannya telah melampaui jauh. Sebuah pikiran untuk membebaskan klas buruh dari segala penindasan dan penghisapan modal.

 

Dari pikiran semacam itu, dibenak mereka, iuran anggota bukan lagi dimaknai sebagai konsekuensi formal, sebab AD/ART telah mengaturnya. Bukan juga menjadi semacam tindakan transaksional, karena kasus-kasusnya telah diurus atau dimenangkan. Ia akan memahami iuran sebagai kewajiban demi mencapai cita-cita besar.

 

Ia paham organisasi serikat buruh harus bertahan dalam jangka panjang. Dan untuk bertahan, iuran anggota menjadi elemen yang mesti dipenuhi, sebagaimana elemen-elemen penting lain. Ia sadar, malas membayar iuran merupakan ikhtiar telanjang dalam menggembosi serikat buruh, melemahkan gerakan buruh secara keseluruhan.

 

Ambil contoh sejarah. Buruh-buruh perempuan dalam tubuh SOBSI suatu waktu menyadari arti penting peningkatan kualitas kader perempuan. Berangkat dari kesadaran ini mereka mengagendakan serangkaian pelatihan dan pendidikan kepada buruh perempuan.

 

Pada Februari 1958, SOBSI mengadakan Seminar Nasional pertama tentang buruh wanita. Seminar ini mengulas hak-hak perempuan, masalah ekonomi-sosial kaum perempuan dan cara menarik perempuan ke tubuh SOBSI. Tak heran bila kemudian, partisipasi dan militansi buruh perempuan makin meningkat dalam berbagai aksi.

 

Kegiatan SOBSI tadi ringan dijalankan, sebab 90% dana kegiatan mampu ditopang dari iuran, hanya 10% diterima dari simpatisan dari luar organisasi. Silakan diperiksa, bagaimana perbandingannya dengan komposisi pendanaan, semisal dengan Kongres I KPBI baru-baru lalu. Perbandingan itu akan menunjukkan masih seberapa jauh jalan kita kedepan. Masih seberapa kurang pendidikan yang diberikan.

 

Iuran anggota serikat yang didasarkan pada kebutuhan organisasi dan politik yang akan dilaksanakan, seperti contoh SOBSI, menuntut pemimpin serikat buruh untuk membeberkan seterang-terangnya apa saja program yang hendak dilaksanakan. Apa tujuannya, apa hasil yang hendak dicapai dan seterusnya.

 

Pembeberan ini akan menguatkan prespektif diantara kalangan anggota. Dari prespektif itu, iuran anggota akan ringan dikeluarkan dari tiap gaji bulanan. Buruh akan sangat paham, demi apakah uang mereka dialirkan. Tak lain, demi kepentingan jangka pendek, maupun jangka panjang mereka sendiri.

 

Orang-orang yang sadar tentu dijauhkan dari kemalasan. Mereka ini lantas tumbuh bersemangat dan berdisiplin. Mereka menjadi barisan yang berani! Tanpa kecuali berani bayar iuran besar, yang artinya berani memerdekakan buruh. Seperti apa yang diujarkan seorang buruh asal Jombang hampir satu abad silam. Semaoen.

 

Akhir kata, Kemajuan serikat buruh mu, kemajuan cita-citamu. Butuh iuran mu!

 

Oleh : Embun Pagi

**

Mungkin Anda Menyukai