Persatuan Salah Satu Kunci Kemenangan Buruh

Persatuan Salah Satu Kunci Kemenangan Buruh

Ketika buruh dan pengusaha berhadap-hadapan dalam kasus perburuhan, kita dapat dengan jelas melihat adanya 2 kekuatan yang tidak berimbang. Seolah gajah berhadapan dengan semut. Kenapa demikian? Pengusaha memiliki modal berupa kekayaan yang besar, menguasai alat produksi termasuk pabrik, dan dengan kekayaanya dia mampu untuk mengkonsolidasikan aparat negara dan birokrasi untuk melanggengkan kepentinganya. Sedangkan buruh, tidak memiliki semua itu. Namun ada satu hal yang paling ditakuti oleh pengusaha, yakni ketika buruh bersatu dan menuntut hak-haknya yang selama ini dirampas oleh para pengusaha.

Kita bisa melihat dan mengambil pelajaran sangat berharga dari perjuangan buruh-buruh transportasi/ supir trailer yang bekerja di PT. Rohan Putra Transindo, Marunda, Jakarta Utara, yang tergabung dalam Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia(SBTPI). Setelah selama bertahun-tahun bekerja di perusahaan ini, para supir tidak pernah menikmati hak-hak kesejahteraan yang sesuai dengan UU ketenagakerjaan 13/2003 dan UU 3 tahun 1992 tentang jamsostek. Tahun 2009 yang lalu, para supir sudah sempat melakukan pemogokan untuk menuntut hak-hakya sebagai pekerja, namun karena kekuatan para supir saat itu masih lemah, akhirnya hanya sedikit sekali hasil yang bisa di capai. Setelah berjalan beberapa tahun, kesejahteraan semakin hilang dan perlakuaan sewenang-wenang dari pengusaha kepada supir semakin menjadi. Termasuk yang paling tidak manusiawi adalah membebankan biaya kecelakaan yang nilainya puluhan juta rupiah kepada supir yang kendaraanya mengalami kecelakaan di jalan ketika menjalankan tugas dari pemilik perusahaan. Selain itu, perusahaan juga tidak segan-segan untuk melakukan PHK seenaknya tanpa mau memberi pesangon sesuai dengan aturan UU ketenagakerjaan. Kenyataan inilah yang kemudian menjadi pemicu para supir untuk melakukan pemogokan pada tanggal 7 April 2011. Sebelumnya, upaya perundingan dan jalan persuasif telah di tempuh oleh para buruh. Namun pihak pengusaha justru anti terhadap serikat buruh yang mewakili para supir dan bersikeras memaksakan kehendaknya untuk melakukan PHK sewenang-wenang serta tidak mau memenuhi tuntutan buruh-buruh transportasi ini terkait dengan peningkatan upah dan jaminan sosial tenaga kerja. Karena menemui jalan buntu, maka para supir bersepakat untuk melakukan pemogokan di lokasi kerja mereka. Selama melakukan pemogokan, berbagai intimidasi dialami oleh para supir. Mulai dari mematikan air minum yang selama pemogokan digunakan oleh para supir, merobohkan tenda tempat berteduh dan konsolidasi supir selama pemogokan, merusak dan merampas berbagai atribut organisasi yang dipasang selama pemogokan dan bahkan sampai di usir dari areal kerja mereka. Intinya segala upaya dilakukan oleh pengusaha untuk melemahkan dan menggagalkan perjuangan para supir. Namun supir yang sudah sadar dan bersatu dapat tetap teguh dan semakin yakin untuk terus menuntut hak-hak nya.

Perjuangan para supir tidak hanya dilakukan dengan pemogokan, upaya hukum legal dengan mengikuti mekanisme advokasi ketenagakerjaan di disnaker juga di jalani oleh para supir. Mereka beramai-ramai mengadu ke Sudinakertrans Jakarta Utara. Seperti kita tahu selama ini, bahwa pegawai sudinakertrans sering tidak berpihak kepada buruh yang sedang berkasus. Meskipun setelah keluar surat anjuran yang menyatakan bahwa pihak pengusaha harus mempekerjakan kembali semua supir yang di PHK, namun anehnya justru dari bagian pengawasan Sudinakertrans Jakarta Utara malah menyatakan bahwa para supir tidak memiliki hubungan kerja seperti di atur dalam UU ketenagakerjaan 13/2003 tapi hanya memiliki hubungan kerja “mitra”. Pernyataan pegawai pengawasan ini dikeluarkan setelah sebelumnya mereka mengeluarkan surat nota pengawasan yang dikirim kepada pihak pengusaha. Ditengah kalutnya para buruh transportasi/ supir PT. Rohan Putra Transindo menunggu kejelasan tuntutan dan nasibnya, mereka bertemu dengan buruh-buruh anggota Forum Buruh Lintas Pabrik (FBLP)dari Kawasan Berikat Nusantara Cakung (KBN Cakung) yang juga sedang mengalami nasib sama. Tanpa harus berdebat dan berpikir panjang lagi, segera para buruh transportasi dan buruh-buruh KBN Cakung melakukan konsolidasi-konsolidasi untuk berjuang bersama. Selain dari dua kekuatan itu, dukungan kepada perjuangan para supir juga mengalir dari berbagai macam organisasi serikat buruh maupun ormas-ormas yang selama ini berjuang bersama buruh.

Setelah kurang lebih 2 bulan melakukan pemogokan dan aksi-aksi massa dengan dukungan dari berbagai organisasi dan tentunya para supir di kawasan jakarta utara yang tidak henti-hentinya memberikan sumbangan baik moril maupun materiil, akhir Mei 2011 para supir PT. Rohan Putra Transindo akhirnya dapat menemui titik terang yang di tunggu-tunggu. Tuntutan hak-hak normativ yang dituntut oleh mereka akhirnya dipenuhi oleh pengusaha, meskipun belum semuanya. Kenyataan ini tentunya tidak lepas dari seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh para supir yang telah berhasil membangun persatuan baik ditingkatan garasi tempatnya bekerja maupun dengan garasi lain dan tidak ketinggalan yang penting juga adalah persatuan dengan organisasi-organisasi yang konsisten terhadap perjuangan buruh. Tentunya semakin besar persatuan yang dibangun oleh para buruh, maka kemenangan dari perjuangan mereka akan lebih besar. Inilah pelajaran penting yang bisa kita petik dari perjuangan kawan-kawan supir di PT. Rohan Putra Transindo. Setelah berjuang sekian bulan, akhirnya mereka dapat menemui titik kemenangan perjuanganya ketika persatuan berhasil mereka bangun.

Oleh : Afik Ir.

Bagikan :

Mungkin Anda Menyukai

Pin It on Pinterest