Kisah Sunyi Awak Mobil Tangki

Awak mobil tanki (AMT) adalah mereka di garis terdepan, mendistribusikan BBM ke segala penjuru. Menaklukan jalanan yang tak bisa tertebak kondisinya, di antara tenggat waktu yang ketat. Resikonya, mereka bisa bernasib nahas: tabrakan, terbakar, dan meregang nyawa.

Celaka bisa mampir kapan saja. Tapi tragisnya, besarnya resiko ini tak ditanggung oleh perusahaan tempat mereka bekerja: Pertamina Patra Niaga. Pergulatan hidup AMT barangkali adalah kisah sunyi yang luput dari perhatian kita.

Berikut ini adalah kisah dari salah satu AMT Pertamina Patra Niaga.

*

Nama saya Komarudin. Saya sebagai AMT 2 yang bertugas mendistribusikan BBM dari Depo Plumpang. Bersama Riyadi, AMT 1, kami mengendarai mobil tangki bernomor polisi B 9005 sfu. Saya bekerja untuk Pertamina Patra Niaga sejak April 2007. Saya ingat,  saat itu perusahaan saya belumlah sebesar saat ini. Tidak punya mobil tanki, sehingga harus menyewa ke perusahaan-perusahaan lain sesama rekanan Pertamina.

Bekerja selama 9 tahun, saya tak menyangka pada 21 April 2016 menjadi awal perubahan dalam hidup saya. Saat itu, jam 12.00 saya tiba di Depo Plumpang seperti biasanya. Saya tak langsung bekerja, menunggu tiga jam karena mobil sedang diperbaiki oleh bagian mekanik. Setelah mobil selesai, saya dan Riyadi sebagai sopir segera melakukan pengisian. Sekitar jam 4 sore, kami mengantar BBM ke SPBU 31-11403 daerah Grogol. Kembali ke Depot pukul 19.15, kami mengantar BBM lagi ke SPBU 34-15210 dan 34-15205 di Jalan Perancis Dadap, Tangerang.

Mengantar BBM ke tiga SPBU telah ditunaikan, kami pun kembali ke Depot menjelang tengah hari, sekitar jam 23.30 WIB. Kami beristirahat satu jam, melepas letih sambil menunggu hari berganti. Jam masih menunjuk pukul 00.30 WIB, tetapi kami kembali mengirim BBM ke SPBU 34-16610 Cigudeg. Tak ada firasat apa-apa. Di depan kami sebuah jalan menurun dengan tikungan tajam. Riyadi tiba-tiba berteriak cemas: “Rem blong.” Kami panik luar biasa. Mobil melaju tak tentu arah, terplanting, dan menabrak keras batang pohon.

Beberapa saat saya tak ingat lagi apa yang terjadi. Riyadi langsung meninggal di sebelah saya. Saya bersyukur karena Tuhan masih memberi saya hidup. Beberapa orang membawa saya ke puskesmas Cigudeg. Karena luka di tubuh  cukup parah, saya pun dilarikan ke Rumah Sakit Kartika Husada. Benturan keras telah membuat tangan dan kaki saya patah. Hari itu juga tangan saya dioperasi. Biayanya dibayar oleh manajemen karena BPJS Kesehatan yang saya punya ternyata tak bisa untuk klaim kecelakaan.

Keesokannya saya diperbolehkan pulang. Sesampai di rumah, istri saya bercerita mendapatkan uang Rp 300 ribu oleh pengawas AMT. Saya menjalani rawat jalan selama 15 hari dengan biaya Rp 4.320.000. Jangan salah, saya memakai uang pribadi untuk berobat. Saya menitipkan sejumlah kuitansi pembayaran ke seorang teman agar diberikan ke perusahaan. Berharap perusahaan mengganti uang yang saya keluarkan. Tapi harapan saya tak pernah terwujud, bahkan nasib saya berikutnya malah lebih buruk.

*

Di bulan Agustus, empat bulan setelah kecelakaan itu, Komarudin terkejut rekening gajinya diblokir. Dengan kondisi masih tertatih-tatih, Komarudin datang ke perusahaan. Dia pun kecewa mendengar jawaban dari perusahaan. “Diblokir karena saya gak pernah masuk, gak ada pemberitahuan dan gak pernah absen. Padahal mereka tahu saya baru saja kecelakaan.”

Komarudin menyerah dengan kembali bekerja meski  lukanya belum mengering. Empat hari setelahnya, rekeningnya gajinya dibuka kembali. Tapi lukanya kembali nyeri,  Komarudin datang kembali ke rumah sakit. Saat di rontgen, ternyata telapak kakinya retak. Tak lupa ia menitipkan kuitansi biaya rumah sakit ke perusahaan lewat sejawatnya. Untuk memulihkan lukanya, Komarudin kembali libur bekerja. Dan lagi-lagi, rekeningnya diblokir di bulan Oktober dengan alasan yang sama.

Puncaknya, Komarudin menelan pil pahit pada 27 Mei 2017. Di hari pertama puasa Ramadhan itu, dia yang sudah bekerja selama 10 tahun justru menerima pesan pendek: dipecat sepihak oleh vendor perusahaan. Selain pesan pendek, selembar surat pemecatan yang diantar tukang pos makin menumpukkan kecewa. Padahal luka-lukanya belum sembuh benar dan seluruh klaim pengobatan juga tak pernah ia terima.

Komarudin pun memilih menuntut hak-haknya. Ia bergabung dengan 300 sejawatnya yang mengalami nasib serupa. Pada 31 Mei lalu, mereka turun ke jalan bersama-sama memprotes PHK sepihak yang dilakukan vendor Pertamina Patra Niaga PT Garda Utama Nasional.

Pada November 2016, sekitar 1000 buruh transportasi di Pertamina Patra Niaga melakukan aksi mogok kerja. Mereka memprotes status alih daya dan kontrak berkepanjangan yang mengakibatkan buruh tidak mendapatkan hak-hak normatifnya yang telah diatur UU Ketenagakerjaan. Selain itu, para Awak Mobil Tangki juga mendesak penghapusan kondisi kerja yang membahayakan nyawa. Di antaranya adalah jam kerja berkepanjangan.

Jam kerja hingga 12 jam lebih membuat buruh yang membawa bahan mudah terbakar itu rentan kecelakaan, seperti yang dialami Komarudin. Federasi Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia (FBTPI) mencatat, sejak Desember 2015, sudah tiga kali truk tangki dari depo Plumpang tterbakar. Empat buruh tewas terpanggang dalam kecelakaan tersebut.

Ketua Umum FBTPI, Ilhamsyah, mengatakan, sekitar 1000 buruh pengangkut BBM  seharusnya sudah menjadi karyawan tetap dan tidak dapat di-PHK semena-mena. “Apalagi Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Utara juga telah menerbitkan nota pemeriksaan, bahwa buruh outsourcing di Pertamina Patra Niaga seharusnya menjadi karyawan tetap,” kata Ilhamsyah, saat unjuk rasa 31 Mei 2017.

AFIK IRWANTO

Bagikan :

Mungkin Anda Menyukai

Pin It on Pinterest