Jihadnya Kelas Pekerja

Oleh : Aditya F )*

“Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia di jalan Allah, siapa yang bekerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan maka dia di jalan thaghut.”
(HR Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath).

Demikian, Rasulullah SAW meletakkan bekerja dalam dimensi sosialnya. Bekerja demi memperbaiki kehidupan ditaruh di strata yang luhur. Nilainya setara berjuang di jalan Allah. Sebaliknya, tindakan akumulasi, menumpuk laba dan segala hasrat kemewahan didakwa sebagai “thaghut.”

Di kesempatan berbeda, walau tak sedikit kalangan mengklasifikasinya dalam hadits dho’if (lemah), ada pernyataan berbunyi, “kemiskinan mendekatkan kepada kekufuran”. Kita tidak sedang berniat menakar ke-shahih-annya, melainkan mencoba melihat jejaknya dalam lanskap realitas.

Berabad silam, Aristoteles guru filasfat Yunani itu pernah berujar, “kemiskinan adalah ayah dari revolusi dan kejahatan.” Namun tak perlu menjadi seorang filsuf hanya untuk paham bagaimana kemiskinan mendorong agresi menuju krimininalitas. Walau tentu bukan satu-satunya motif.

Dalam keseharian, Si Miskin rutin menyaksikan, bagaimana mencuri motor atau mencopet, mustahil dilakukan bila pelaku memiliki pekerjaan layak, gaji bagus, jaminan kesehatan, serta jaminan pendidikan hingga jenjang tertinggi bagi keluarganya. Kebanyakan orang waras akan segan melakukan pertaruhan yang tak sepadan. Resiko “di massa” terlalu mengerikan dibanding recehan yang bisa diperoleh.

Motif mempertahankan hidup tampak menjadi primer bagi bandit kelas kroco. Kemiskinan yang merajalela di pesisir, 13,5 persen penduduk miskin Indonesia, memaksa mereka menjadi perompak-perompak di lautan. Sebaliknya, hasrat menumpuk kapital menggerakkan bandit kerah putih dalam beragam mega skandal. Skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia merugikan negara 3,7 triliun sedangkan korupsi KTP Elektronik sebesar Rp 2,3 triliun. Perdedaan kelas sosial melahirkan motif, metode, infrastruktur kriminalitas, dan perlakuan hukum yang berbeda pula.

Dahulu kala orang tua kita (berbekal pemahamannya yang terbatas), rutin menasehati, ‘bekerjalah yang rajin biar hidupmu makmur”. Di era modern, -di bawah sistem yang mensyahkan monopoli alat produksi di tangan segelintir orang-, ternyata bekerja saja tak pernah cukup. Penelitian Oxfam menyebutkan harta empat orang terkaya Indonesia sama dengan 100 juta penduduk miskin Indonesia. Saat ini, berkerja keras sama tak cukupnya.

Pertarungan antara mereka yang bekerja untuk memperbaiki kehidupan sosial melawan kalangan “thagut”, -yaitu mereka yang hendak mempertahankan kemewahan hidup-, menjadi eksis dalam keseharian kelas pekerja dimana saja berada. Eskpresi pertarungan ini mewujud mulai dalam bentuk aksi protes di depan gerbang pabrik, hingga demonstrasi di muka istana .

Dimensi “berjihad” selanjutnya meluas. Ini mencakup bagaimana kelas pekerja meraih kesejahteraan dan hak-haknya. Maka, para buruh yang tengah berjuang di antaranya melalui unjuk rasa dan mogok merupakan para jihadis. Masih banyak buruh dibayar di bawah Upah Minimum. Data Badan Pusat Statistik pada 2006-2012 menunjukan ada sekitar 37 persen buruh formal dibayar di bawah standar kebutuhan hidup minimum itu. Bekerja (baca: berproduksi) harus dikembalikan ke khitahnya. Yaitu demi mencukupi kebutuhan hidup umat manusia, bukan demi mengongkosi nafsu segelintir Tuan di pusaran anarkhisme pasar.

Jihad yang semacam ini, sayangnya tak cukup populer di kalangan agamawan dewasa ini. Mereka bahkan tampak abai. Mereka menarik massa dalam mobilisasi heroik dan ketika demonstrasi usai, rakyat kembali ke persoalan hariannya. Tanpa solusi konkrit.

Akhirnya, kesejahteraan tetap menjadi misteri menurut mereka. Lingkaran setan tanpa jawaban, kecuali ditimpakan ulang ke pundak-pundak masing-masing individu umat. Diselingi promosi tentang filantropi atau sumbangan. Meski sejak berabad silam jelas-jelas filantropi merupakan aksi yang gagal memberi penyelesaian sistemik.

Di atas realitas semacam inilah, “jihad kelas pekerja” mendapatkan basis sosialnya. Sesuatu yang tak mungkin ditunda-tunda lagi. Sebab, Emak butuh makan dan Upik menagih uang sekolah. Sementara derita sudah setinggi leher, Kawan! Tunggu apalagi?!
***

Penulis adalah Staff DPP FBTPI

Bagikan :

Pin It on Pinterest