Distribusi BBM di Banyuwangi dan Jember Tersendat

BANYUWANGI — Distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tersendat menyusul aksi mogok awak mobil tangki sejak Senin kemarin, 19 Juni 2017. Bahkan stok BBM di beberapa SPBU kosong.

Dari pantauan Selasa sore di SPBU 54.684.37 Jalan Banterang, stok pertalite sebanyak 8 kiloliter habis sejak Senin kemarin pukul 18.30 WIB. SPBU tersebut hanya menjual pertamax dan premium yang masing-masing tersisa 2 KL dan 4 KL.

SPBU ini setiap harinya telah memesan 24 KL untuk seluruh jenis BBM. Tetapi kemarin, Pertamina hanya memasok 8 KL premium karena kekurangan awak mobil tangki (AMT). “Yang mengirim AMT cadangan dengan dikawal polisi,” kata salah satu petugas.

Stok premium juga kosong di hari Selasa sejak pukul 13.00 WIB di SPBU 54.684.06 Jalan Brawijaya. Stok BBM lain seperti pertamax dan pertalite juga mulai menipis. Order SPBU ke Pertamina sebanyak 24 KL belum dikirim oleh Pertamina hingga pukul 15.00 WIB.

Kondisi yang sama juga dialami SPBU 54.684.18 di Jalan Gajah Mada. Menurut salah satu petugasnya, dari order 32 KL BBM seluruh jenis, Pertamina baru memasok 8 KL pertamax Senin kemarin. Pertamina mengirimkan BBM ke SPBU tersebut menggunakan sopir sipil dikawal polisi. Stok BBM di SPBU ini diperkirakan cukup hingga dua hari.

Sebanyak 156 AMT Banyuwangi yang tergabung dalam Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FSBTPI), tetap mogok di hari kedua. Mereka tinggal di posko depan Pelabuhan Tanjung Wangi. Ketua AMT Pertamina Depot Tanjung Wangi, Busairi SR, mengatakan, mereka mogok hingga 26 Juni 2017.

Mogok itu dipicu dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak 414 AMT oleh PT Pertamina Patra Niaga pada awal Juni lalu. AMT juga menuntut diangkat sebagai karyawan tetap, bekerja 8 jam, dan mendapatkan asuransi kecelakaan dan kesehatan kerja.

Kepada Suara Surabaya, Heppy Wulandari Humas Pertamina MOR V Jatim Bali Nusa Tenggara mengatakan, gangguan ini karena Pertamina menerjunkan AMT cadangan. Karena AMT baru maka sedikit kesulitan menyesuaikan kerja seperti AMT yang sudah berpengalaman.

“Karena AMT baru maka, mencari lokasi SPBU-nya agak lama,” katanya kepada suarasurabaya.net, Rabu (21/6/2017).

Heppy mengatakan, langkah Pertamina MOR V untuk mengatasi masalah ini diantaranya, dengan mengoperasikan Tanjung Wangi selama 24 jam dan untuk tambahan AMT cadangan terus disiagakan dan pengaturannya secara silang, misal sopir baru, ditandem dengan AMAT lama. Di TBBM juga disiapkan tenaga medis dan extra makanan untuk AMT.

“Kami terus pantau untuk memastikan AMT tetap dalam kondisi prima dalam pelayanan arus mudik/balik,” katanya.

Sementara, Afik Irwanto Ketua DPP Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia mengatakan, selain di Banyuwangi, beberapa SPBU di Puger Jember juga tutup.

Afik mengatakan, segala dampak pengiriman BBM ini akibat dari kelalaian PT Pertamina Patra Niaga yang berlarut-larut tidak menghiraukan tuntutan para AMT yang ingin diangkat jadi pekerja tetap setelah belasan tahun bekerja dengan status kontrak.

“Sebenarnya kami tidak ingin mengganggu pelayanan bagi publik. Tapi, ini cara kami untuk mendesak perusahaan agar taat undang-undang tenaga kerja,” katanya kepada Suara Surabaya.***

 

 

 

Bagikan :

Mungkin Anda Menyukai

Pin It on Pinterest