Bila Rukyat Dan Kawan-Kawan Menjemput Keadilan

BILA RUKYAT dan KAWAN-KAWAN MENJEMPUT KEADILAN

Jakarta mungkin bukan kota yang pernah melintas di benak Nur Atmo kecil. Bila seseorang terlahir di Tegal, diapit ladang dan persungaian, dimana kultur agraris merasuki sumsum-persendian, harusnya tanah serta tanaman jadi teman sekaligus pijakan masa depan.

Namun apapun DNA sosiologis mu, semua tak akan berarti banyak, bila perut tiada henti merengek, sedangkan hari depan ajeg menagih. Ayah Nur Atmo sendiri sekedar buruh tani harian. Tak perlu ceramah ekonomi Tuan Menteri untuk mengerti berapa jumlah kepeng yang bisa didulang dari pekerjaan jenis ini. Nur Atmo sadar. Ia tak bisa tinggal.

Seperti takdir kaumnya, buruh di kota ialah anak kandung kaum tani papa. Arus migrasi mengalir seturut tak meratanya sumur-sumur ekonomi. Jakarta dibanjiri manusia yang butuh mengais rejeki. Tanpa kecuali anak-anak keluarga jelata. Mereka itu kumpulan petarung nan pemberani. Jika tak berani lantas mau apa lagi. Nur Atmo pun pergi.

Tepat ketika dua puluh tahun usianya, Nur Atmo muda merantau ke ibu kota, Di megapolitan Jakarta bola matanya menatapi apa saja. Gedung-gedung raksasa, jalanan sesak menderu, sampai mendapatkan nama panggilan baru. Sopir trailer berbadan tegap sejak itu dipanggil teman-temannya, ‘Rukyat’.

Tahun berlalu, kemudi pun berganti. Sejak Oktober lima tahun silam, Rukyat melewati hari-hari di balik setir tangki. Sebutannya Awak Mobil Tangki, boleh disingkat AMT. Tenaga upahan perusahaan Patra Niaga. Suami Sri Yanti ini satu dari sekian orang yang bertanggungjawab menyuplai kebutuhan BBM dari Depo Plumpang. Suplainya mengisi 850 pom bensin se Jabodetabek, termaksud Puncak dan Sukabumi.

Pekerjaan yang mulia sebenarnya, sayangnya hak-hak mereka justru kebalikannya. Tak jua dimuliakan. Kerja yang berisiko, kecelakaan atau ledakan pun bukan kabar jarang-jarang, kesejahteraannya malah jadi bahan tertawaan. Lebih dalam lagi, pelanggaran hak-hak ketenagakerjaan bertahun-tahun menghampar tak keruan. Sedikitnya berjejak 20 item pelanggaran.

Mungkin tak pernah dibayangkan awam. Orang-orang yang menjamin penduduk kota bisa lancar bermobilitas, malah diganjar nasib naas. Otot-otot yang memastikan warga urban rutin pergi bekerja dengan kendaraan, nasibnya justru disia-siakan. Bila tiap akhir pekan ribuan manusia yang bertamasya, pernahkah membayangkan nasib pahit dibalik gemuruh kendaraan dari Jakarta ke Puncak itu?

Rukyat hanya satu dari sekurangnya seribu. AMT yang telah bekerja belasan tahun. Status hubungan kerjanya sungguh laknat, outsourcing, kontrak tiap tahun. Bekerja 12 jam bahkan lebih tiap hari, tanpa upah lemburan. Persis di saat yang sama mereka menelan getirnya diskriminasi, tidak diberi uang tunjangan Migas selazimnya pekerja Pertamina.

Jam kerja yang panjang, tak jarang berpangkal kecelakaan kerja mengenaskan. Apa yang paling menyayat hati bagi Rukyat, bapak dua lelaki ini? Begini ujarnya suatu hari dengan bola mata menerawang,

‘Hari Lebaran Idul fitri kalau jatah kerja, harus kerja. Cuma dikasih uang satgas 75 rebu doang. Berpisah dengan keluarga di hari bahagia, sekedar diberi upah sekenanya. Itu sangat menyakitkan, Bung!’

Seperti takdir klas buruh dimanapun berada, mereka bukan mahluk cengeng semenjana. Klas buruh tak mencandui sedu sedan. Bermula pada bulan kedelapan dua tahun silam, Rukyat dan kawan-kawan mulai menghimpun barisan. Berserikat. Menjamurkan klas-klas pendidikan. Menabur benih kebangkitan. Hingga dalam waktu singkat, 800 dari 1000 pekerja Patra Niaga bergabung dalam kubu perlawanan.

Dan 1 November ini, sekumpulan laki-laki hebat ini dengan dada membusung lantang mendeklarasikan pemogikan. Bendera kebangkitan dikibarkan. Rukyat dan kawan-kawan menjemput keadilan.

Oleh : Embun Pagi
***

 

Bagikan :

Mungkin Anda Menyukai

Pin It on Pinterest